Tentang Pegunungan Bromo sebagai Pilihan Tempat Penyelenggaraan Jazz Gunung

jazzgunung2012-1

Pemilihan kawasan pegunungan Bromo sebagai tempat penyelenggaraan Jazz Gunung berangkat dari beberapa pemikiran mendasar. Antara lain dari aspek pariwisata dimana Bromo termasuk dari tiga destinasi emas “Tiga B”, yaitu Borobudur, Bromo dan Bali.

Namun, Bromo masih terhitung sepi dan cenderung dilewatkan wisatawan. Bromo belum menjadi top of mind dari destinasi wisata yang ada di Indonesia, karena identitas dari Bromo adalah matahari terbit. Para pelancong biasanya datang di sore atau malam hari, kemudian bermalam agar dapat menikmati matahari terbit pada dini hari. Lalu mereka meninggalkan Bromo pada pagi hari.

Walaupun peristiwa matahari terbit di Bromo memang menjadi pesona utama Bromo yang sudah mendunia, seperti yang diakui oleh situs Lonely Planet, yang menilai peristiwa matahari terbit di Bromo sebagai wisata gunung terbaik ketiga di dunia, setelah Gunung Olympia di Yunani dan Gunung Elbrus di Russia, tampaknya perlu ada alternative pesona wisata lain selain keindahan matahari terbit. Maka, Jazz Gunung hadir sebagai salah satu alternatif  identitas pesona Bromo.

Jazz Gunung ini digagas oleh Sigit Pramono, seorang bankir dan fotografer yang mencintai Bromo dan musik jazz; dan didukung oleh Butet Kartaredjasa, seorang seniman yang serba bisa; serta Djaduk Ferianto, seniman musik yang kerap diundang pentas di mancanegara membawakan world music dengan ciri Indonesia yang kental.

Terima kasih Pak Sigit, Mas Butet dan Kang Djaduk yang telah memikirkan Bromo, Suku Tengger dan Probolinggo. Sebuah perjuangan nyata memajukan pariwisata daerah yang patut diteladani Warga Probolinggo.

Bagaimana pendapat Anda?

Tanggapan Anda