RUPIAH KOK LOYO ?

rupiah-loyoPenulis: Jaiman Pin BB 791F7F55

Minggu ini kurs rupiah kembali melemah hingga menyentuh level 12.000 per dollar USD. Ini adalah sejarah terburuk sepanjang tahun 2014. Yang mencenggangkan justru reaksi BI yang hanya santai saja.

Deputy Gubernur BI Mirza Adityaswarsa mengatakan, bahwa pelemahan rupiah diperlukan dalam kondisi saat ini untuk mendongkrak export Indonesia. Pernyataan senada juga dikatakan oleh gubernur BI, Agus Marto yang mengatakan bahwa pelemahan rupiah wajar karena kinerja ekonomi Amerika yang cukup stabil.

Apa yang menyebabkan naik turunnya kurs mata uang? Jawabannya singkat dan padat, “permintaan”, yaitu permintaan terhadap rupiah. Hukum permintaanlah (demand law) yang menentukan kekuatan kurs rupiah. Kalau permintaan terhadap rupiah naik pasti kurs rupiah juga naik, dan sebaliknya apabila permintaan rupiah menurun kursnya juga melemah.

Nah sekarang yang perlu dicari adalah, apa penyebab naik turunnya permintaan tersebut?

Pertama ekspor. Apabila eksport indonesia besar atau sangat besar maka permintaan terhadap rupiah juga naik.  Dari mana naiknya? Barang yang kita export akan dibeli orang luar negeri. Dia akan membayar dengan rupiah. Karena tidak punya uang rupiah maka mereka akan menukarkan uang mereka (baca dollar)  dengan rupiah. Karena mereka akan membeli rupiah otomatis ini akan meningkatkan permintaan terhadap rupiah sehingga kurs rupiah akan naik terhadap dollar.

Kedua, capital inflow atau arus modal masuk dari luar negeri. Di Jakarta ada pasar modal utama yaitu Bursa Efek Indonesia  (IDX). Di bursa ini semua orang bisa membelanjakan uang untuk membeli saham yang ditawarkan. Termasuk di dalamnya adalah pelaku pasar dari luar negeri. Di sini harga saham dinyatakan dalam mata uang rupiah. Misalnya harga saham PT Telkomsel Rp 10.000 per lembar. Kemudian ada orang asing berminat membeli saham Telkomsel sebanyak 1 juta lembar, maka dia harus membayar sebanyak 10 miliar rupiah. Karena dia hanya punya dollar, maka dia harus menukarkannya dengan rupiah, sehingga kurs rupiah akan naik. Kasus sebaliknya juga akan terjadi apabila mereka hendak menjual kembali sahamnya di Indonesia, sehingga akan menurunkan kurs rupiah.

Sangat ironis, bahwa bursa efek Indonesia dipenuhi dengan para spekulator. Mereka bukan investor sejati, mereka adalah pencari rente ekonomi, kalau perlu menjadi tikus untuk mendapatkan pundi-pundi super banyak. Para spekulator akan melakukan upaya apapun, asal dapat untung, termasuk menggoreng informasi di media untuk menimbulkan kepanikan sosial dan sejenisnya. Uang dibawa masuk sebanyak-banyaknya dan pergi dengan membawa untung berlimpah.

Ketiga, Jasa-jasa yang dilakukan oleh orang Indonesia di luar negeri. Laporan dari Depnakertrans bahwa pada bulan Maret 2013 tecatat sekitar 6.5 juta jiwa orang Indonesia yang mengais rejeki di luar negeri. Mereka tersebar di 142 negara. Dari jumlam tersebut, Indonesia menerima remitansi sebanyak Rp 81.34 triliun. Walaupun masih relatih kecil dibanding dengan modal asing, tetapi jumlah ini terus meningkat hingga 5 persen per tahun.

Bagaimana mekanisme pengiriman gaji ini hingga bisa meningkatkan kurs rupiah? Para TKI ini menerima gaji dollar di luar negeri. Sebagian gajinya dikirimkan kepada keluarganya yang ada di dalam negeri. Karena gajinya dalam mata uang asing, mereka membutuhkan rupiah yang akan diberikan kepada keluarganya yang membutuhkan rupiah, dengan demikian permintaan terhadap rupiah meningkat dan kurs rupiah juga akan naik.

Dari ketiga kelumpok besar ini mana yang dominan? Saat ini yang dominan adalah capital outflow. Porsi pasar modal ini sangat besar terhadap pergerakan kurs rupiah sehingga mau tidak mau rupiah sangat labil. Tahun 2013 nilai kapitalisasi bursa efek Indonesia mencapai 4 ribu triliun rupiah. Dari angka tersebut, 63 persen diantaranya berasal dari pemodal asing. Jadi bisa dibayangkan betapa besar pengaruh capital inflow terhadap kurs rupiah.

Paiton, 19 September 2014

Bagaimana pendapat Anda?

Tanggapan Anda

Leave a Reply