Opini Publik: Problematika Pasar Tradisional di Indonesia

Problematika Pasar Tradisional di Indonesia

Oleh: Abdullah Mansuri Ketua Umum IKAPPI (Ikatan Pedagang Pasar Indonesia)

Banyaknya persoalan yang menimbulkan matinya pasar tradisional di beberapa daerah memaksa DPP IKAPPI lebih kerja keras dan fokus dalam mengadvokasi pedagang, bagaimana tidak, terus bergulir program revitalisasi tanpa pengawasan pusat menimbulkan banyaknya konflik yang berakibat tersingkirnya pedagang lama di pasar-pasar yang di revitalisasi. Belum lagi menjamurnya pasar modern yang langsung masuk ke jantung strategis di pelosok daerah hal ini menyebabkan lumpuhnya pendapatan pedagang di beberapa pasar. Jam operasional, jenis mata dagangan, jarak yg terlalu dekat dengan pasar, merupakan gfaktor utamanya.

Pedagang kurang mendapatkan sentuhan

Pedagang pasar tradisional adalah pahlawan ekonomi daerah, banyak hal yang harus menjadi perhatian pemerintah pusat dan daerah menapa begitu? Kita bisa ingatkan, Pasar Tradisional menjadi penyangga ekonomi disaat konglomerat kelimpungan dilanda krisis tahun 1997. Ironis jika pemerintah masih melihat hal itu “dengan sebelah mata”.

“Walaupun jumlah pedagang di 13.500 pasar mencapai 12,5 juta orang, dan menghidupi 62,5 juta orang (dengan asumsi setiap pedagang menghidupi 5 orang), pemerintah belum menganggapnya penting. Padahal jika ditambah dengan mata rantai ekonomi dari hulu ke hilir yang tercipta, maka pedagang pasar bisa mencapai diatas 100 juta orang. Hanya saja, itu bukan sebuah kelebihan di mata pemerintah, karena pedagang pasar masih tetap diperlakukan secara diskriminatif dan tidak adil.

Bahkan, lanjut dia, untuk mendapatkan kepastian hukum atas tempat usahanya yang tidak lebih dari 10 m2 saja harus melalui bukit yang terjal. Hal ini sangat kontras jika dikomparasikan dengan hak yang diperoleh para konglomerat pengelola HPH. Dimana data menunjukkan bahwa hanya untuk puluhan konglomerat, pemerintah memberikan kepastian hukum berupa hak pemakaian seluas 35,8 juta.

Sedangkan 12,5 juta pedagang pasar hanya memanfaatkan lahan seluas  18.750 ha (dengan asumsi luasan tempat usaha 10m2 ditambah 50% fasilitas umum pasar), sampai detik ini belum mendapatkan kepastian hukum (hak) yang jelas. Sangat miris melihat jomplangnya komparasi itu. Lalu dimana letak politik ekonomi kerakyatan yang didengungankan dengan nyaring selama ini?

Pasar di buat kumuh dan kotor

Pedagang pasar selalu menjadi kambing hitam jika kondisi pasar terlihat kumuh, kotor bau dan becik. Padahal pedagang pasar selalu membayar retribusi daerah, keamanan, dan kebersihan. Lalu mengapa kondisi pasar masih di biarkan kumuh?, di biarkan kotor dan tidak aman? Dari kajian DPP IKAPPI kami menemukan beberapa fakta, bahwa ini ada unsur kesengajaan agar lebih cepat melakukan proses revitalisasi atau “proyek” bangunan baru di pasar. Jika pasar lebih cepat di bangun ulang maka lebih cepat pula oknum pemerintahan daerah mendapatkan keuntungan dari “proyek” tersebut.

Belum lagi kejanggalan-kejanggalan maraknya kebakaran pasar. Akhir-akhir ini kami banyak mendapatkan laporan tentang kebakaran pasar, kebakaran di dalam pasar ada dua faktor, yang pertama karena tidak adanya perawatan instalasi listrik secara rutin, penyuluhan, pelatihan terhadap pedagang dan beberapa pembinaan tentang pentingnya keamanan listrik, yang ke dua yg sudah menjadi rahasia umum adalah unsur keaengajaan.

Maka dari itu IKAPPI sebagai organisasi mandiri dan independen yang fokus dalam pendampingan dan advokasi pedagang pasar se Indonesia memiliki pekerjaan yang jauh lebih berat. Kami tak dapat melakukan perbaikan sendiri, semua ini dapat terwujud jika semua elemen bersatu, IKAPPI bersama pedagang dan semua masyarakat khususna teman2 media dan komunitas di daerah-daerah. Semoga Allah bersama kita semua..

Dikirim oleh Fafabuns <fafabuns@gmail.com>

Untuk Pengaduan Masyarakat Atau Keluhan-Keluhan Para Pedagang Pasar. Dapat Dikirimkan Via Email Ke Alamat ===> dppinfokomikappi@yahoo.com

Opini Publik adalah suara publik yang mengandung kepedulian dan menambah wawasan. GoProbolinggo dot COM membuka ruang untuk penyampaian OPINI yang bertanggung-jawab. Kirim Opini Anda ke goprobolinggo@gmail.com

Tanggapan Anda

Leave a Reply